CONTOH SKRIPSI : KONTEKS MEDIA PEMBELAJARAN

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Dalam suatu proses pembelajaran diperlukan suatu teori pembelajaran aktif kreatif Dan menyenangkan, sehingga siswa dapat termotivasi untuk lebih giat dalam pembelajaran berikutnya. Salah satu upaya untuk memotivasi siswa sehingga memungkinkan peningkatan prestasi adalah  dengan memanfaatkan alat peraga sebagai media pembelajaran. Dalam artikel pendidikkan 2001, disebutkan bahwa prestasi belajar siswa juga akan meningkat. Cenderung lebih mempelihatkan paradigma pendidikkan saat ini, sebagai mana yang terkandung dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikkan (KTSP). Hal ini merupakan satu hal mengapa media pembelajaran sangat diperlukan dalam proses pembelajaran.

Sekolah Dasar Kedungmudu 01 Semarang dalam kaitannya dengan penerapan KTSP harus menerapkan proses pembelajaran yang berpusat pada siswa bukan lagi menggunakan paradigma lama seperti datang, duduk, diam, dengarkan dan dilarang bertanya (apa lagi yang macam-macam). Siswa didorong untuk lebih kritis dalam melaksanakan dan mengikuti proses pembelajaran sehingga pembelajaran akan berjalan secara optimal.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dengan penggunaan media pembelajaran diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret kepada siswa, dan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran sebagai contoh yaitu media pembelajaran komputer interaktif. Oleh itu penggunaan media pembelajaran merupakan sarana yang dianjurkan dalam proses belajar mengajar.

Pernyataan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka pernyataan masalah dalam penelitian ini adalah: “ Apakah manfaat media pembelajaran dalam pengajaran Pendidikkan Agama Kristen pada siswa kelas I –V di Sekolah Dasar Kedungmudu 01, Semarang?”

Penjelasan Istilah

Untuk memberi kesamaan pemahaman dan menghindari adanya perbedaan penafsiran dalam penelitian ini maka disampaikan penjelasan istilah yang diperlukan.

“Manfaat” adalah faedah atau guna.[6]

“Medi Pembelajaran”, adalah suatu alat, bahan atau berbagai macam komponen yang dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar untuk menyampaikan pesan dari pemberi pesan kepada penerima pesan untuk mempermudahkan penerima pesan atau menerima suatu konsep.[7]

“Pendidikkan Agama Kristen” (disingkat PAK ), adalah proses pengajaran dan pembelajaran yang berdasarkan Alkitab, berpusat pada Kristus dan bergantung kepada Roh.[8]

“Siswa Kelas 1-5” adalah anak usia 6-12 tahunyang sudah memasukki masa Sekolah Dasar.[9]

“SD Kedungmudu 01 Semarang”, adlah Sekolah Tinggi Dasar Negeri, yang lokasinyadi jalan Ampu Sari Raya No. 03,Kedungmudu, Tembalang Semarang.

Berdasarkan penjelasan istilah tersebut di atas, maka permasalahan penelitian dapat diartikan sebagai berikut:”Bahwa penelitian ini dipokuskan untuk mengetahui faedah  atau guna dari alat, bahan atau berbagai macam komponen yang digunakan dalam kegiatan kegiatan belajar mengajar tentang pokok-pokok iman kristan berdasarkan Alkitab pada Anak-anak usia 6-12 tahun yang bersekolah di Sekolah Dasar Kedungmundu 01 Semarang di jalan Raya No.03, Kedungmudu, Tembalang, Semarang.

Pertanyaan Penelitian

Media pembelajaran apa saja yang digunakan dalam pengajaran PAK di SD teladan yang hidup mengenai apa yang ia inginkan agas dipelajari pengikut-Nya. Satu Contoh, ketika Tuhan Yesus mengajar mengenai kepemimpinan, Ia mulai pelayanan-Nya dangan mempersiapkan sebuah kain, seember air dan kemudian mencuci kaki murid-murid yang memanggil-Nya “guru”. (Yohanes 13: 1-17). Dengan kata lain didalam Yesus mengajar, Ia selalu memberi contoh atau teladan terlebih dahulu.

 Dalam kitab ulangan 6:1-9,adalah suatu keharusan mengajar dengan disertai teladan atau contoh.[30] Pengajarannya harus” diperaktekan” dalam kehidupan konkret, yang dapat dilihat,”dibaca” dan ditiru atau dicontoh. Haruslah engkau juga mengikutinya sebagai tanda pada TANGANMU dan haruslah itu menjadi lambang DI DAHIMU, dan haruslah engkau menulisnya pada TIANG PINTU RUMAHMU dan pada PINTU GERBANGMU  (Ulangan 6:8-10).

Perhatikan empat kata kunci dalam pengajaran Kristen. Semuanya menunjuk kepada realitas, kenyataan yang dapat dilihat dan dirasakan yang harus diajarkan atau disampaikankepada orang lain. Dalam pengajaran, disamping dengan alat peraga atau media pembelajaran supaya dapat dilihat dan dirasakan oleh siswa juga harus ada keteladanan, karena telah lebih berharga dari sekedar perkataan.

Ketiga, pengajaran yang berpusat pada kehidupan. Dalam hal ini Iris V.Cully, (1995) mengemukakan:”metode-metode pengajaran Kristen berpusat pada kehidupan. Istilah “berpusat pada kehidupan” sama halnya dengan “berpusat pada pengalaman”. Pengalaman masa kini. Hasilnya adalah suatu minat yang kuat tentang saat ini dan rencana-rencana yang jalas bagi masa depan, namun hanya memiliki pandangan yang terpecah-pecah mengenai masa lampau. Kini pandangan “pandangan berpusat pada kehidupan” memperoleh makna yang lebih dalam melalui pemahaman-pemahaman para ahli dan filsafat teologi eksistensialis. Eksistensi-lah, dan bukan keberadaan yang abstrak, yang dianggap penting. Eksistensi terdiri dari suatu totalitas, bukan dari dalam keberadaannya sendiri, melainkan dari hubungan dengan orang lain, dan benda-benda”[31]

Ruang Lingkup Pak

Ruang lingkup PAK meliputi aspek-aspek sebagai berikut. Allah Tritunggal ( Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus) dan karya-Nya

Nilai-nilai Kristiani. Pada jenjang pendidikan SD peserta didik diperkenalkan pada hakikat Allah dan perspektif hubungan-Nya dengan manusia. Allah tidak berkarya didalam ruang kosong, tetapi berkomunikasi dengan manusia.  Allah membina relasi dengan manusia melalui karya-Nya.26

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

KLS

SMTK

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

I

1

1.Menerima dan mensyukuri keberadaan dirinya sebagai ciptaan Alla dalam relasinya dengan ciptaan lain

1.1 Menerima keberadaan dirinya sebagai pemberian Allah

1.2 Menjwab kasih Allah dengan cara mengasihi keluarganya

 

2

2. Menerima dan mensyukuri keberadaan dirinya sebagai ciptaan Allah dalam relasinya dengan ciptaan lain

2.1 Mensyukuri alam ciptaan Allah dan isinya

2.2 Mensyukuri hidup bersama orang lain

 

Kedungmudu 01 Semarang.?

Apakah manfaat penggunaan media pembelajaran dalam pengjaran pendidikkan Agama kristen (PAK) di SD Kedungmudu 01 Semarang.?

Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian adalah:

1.      Untuk menjelaskan hakekat, arti, bentuk/jenis dan karakteristik media pembelajaran.

2.      Untuk mengetahui manfaat penggunaan media pembelajaran dalam pengajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) kelas I-V di Sekolah Dasar Kedungmundu 01 Semarang.

Kepentingan Penelitian

Kepentingan dalam penelitian menurut Andreas B. Subagyo digolongkan dalam dua bagian yaitu: kepentingan teoritis dan kepentingan praktis. [10] Kepentingan teoritis dari penelitiiian inin adalah untuk memberikan sumbangsih peningkatan kualitas pengajaran bidang PAK   di Sekolah Dasar Kedungmundu 01, Semarang. Sedangkan kepentingan praktis penelitian ini yaitu:

1.      Bagi siswa, supaya siswa dapat meningkatkan minat dalam belajar dan dalam penguasaan materi yang telah disampaikan oleh guru.

  1. Bagi guru PAK, sebagai umpan balik mengenai keberhasilan dalam memanfaatkan media dalam proses pembelajaran sesuai dengan tujuan pengajaran PAK yang telah ditetapkan sebelumnya.
  2. Bagi Sekolah, supaya ada peningkatan proses pembelajaran melalui pemanfaatan alat peraga sebagai media pembelajaran yang selama ini masih kurang. Dengan demikian Sekolah sebagai Lembaga Pendidikan dapat mengembangkan kurikulum demi kualitas pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan dikemudian hari.

Dengan mengetahui dan memahami media pembelajaran yang digunakan dalam pengajaran PAK di SD Kedungmundu 01 Semarang,serta mengetahui manfaat media pembelajaran dalam setiap proses belajar mengajar, maka dapat meningkatkan pemakaian media pembelajaran yang selama ini kurang mendapat perhatian.

 


BAB II

 PENGERTIAN TENTANG MEDIA PEMBELAJARAN DAN

PENGAJARAN AGAMA KRISTEN

 

Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, media pembelajaran sebenarnya bukan hal yang baru. Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan sangat penting dalam proses pembelajaran. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru PAK sebagai fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu tiap-tiap pendidik perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran ahar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.

Pada kenyataannya media pembelajaran masih sering terabaikan dangan berbagai alasan, diantaranya: Terbatasnya waktu untuk membuat persiapan mengajar bagi gurtu sebagai pendidik, kesulitan untuk mencari model dan jenis media yang tepat, keterbatasan biaya yang sebagian dikeluhkan,dan lain-lain. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap pendidik telah mempunyai pengetahuan, pemahaman dan keterampilan mengenai media pembelajaran.[11]

Media pembelajaran adalah “segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik”. Atau dengan kata lain, media adalah “segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjdi secara optimal”.

Media pembelajaran adalah semua alat atau benda yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, dengan maksut untuk menyampaikan pesan. Pada umumnya keberadaan media muncul karena keter5batasan kata-kata,waktu, ruang, dan ukuran. Ditambahkan juga bahwa media pembelajaran berfungsi sebagai sarana yang mampu menyampaikan pesan sekaligus mempermudah penerima pesan dalam memahami isi pesan.[12]

Dari beberapa diskrispi medika pembelajaran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah suatu alat, bahan ataupun berbagai macam komponen yang digumakan dalam kegiatan belajar mengajar untuk menyampaikan pesan dari pemberi pesan kepada penerima pesan untuk memudahkan penerima pesan atau menerima suatu konsep.

Medi pembelajran yang paling dikenal dalam pelayanan siswa Sekolah Dasar sering disebut dengan istilah alat peraga. Media alat peraga dan benda sering disebut sebagai  alat moderen karena kesadaran mengenai pentingnya memakai media mengajar dalam pelayanan siswa masih beru. Melalui pemakaian alat peraga dan benda, imajinasi siswa dirangsang, perasaannya disentuh dan kesan yang dalam diperoleh. Melalui media alat peraga anak akan belajar lebih bersemangat dan dapat mengingat dengan lebih baik.[13]

Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin “Medio”. Dalam bahasa lati media dimaknai sebagai antara. Media merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harfiah berarti pengantara atau pengantar. Secara khusus kata tersebut dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk membawa informasi dari satu sumber kepada penerima.

Kata ”media” berasal dari bahasa latin Medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Menurut KBBI, media dapat diartikan sebagai perantara, penghubung; alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk; yang terletak diantara dua pihak (orang, golongan, dan sebagainya). Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari medium. Secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Pengertian umumnya adalah segala sesuatu  yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi.

Beberapa pakar/ahli media menyatakan definisi media dengan berbagai batasan-batasan tertentu. Gagne mengartikan media sebagai berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Sedangkan, Heinich, Molenda, dan Russel menyatakan bahwa: “ A medium (plural media) is a channel of communication, example include film, Television, diagaram, printed materials, computers, and instructors. (median adalah saluran komunikasi termasuk film, Televisi, diagram, materi tercetak, komputer, dan instruktur) batasan media sebagai segala bentuk saluran yang dipergunakan untuk menyampaikan memberikan pesan atau informasi. NEA ( National Education Assosiation) memberikan batasan media sebagai bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak, audio visual, serta peralatannya.[15]

Dari beberapa batasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa media merupakan segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, dapat membangkitkan semangat, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri siswa.

Sedangkan “pembelajaran” merupakan bentuk jamak dari kata belajar yang mempunyai kata dasar “ajar”. Ajar menurut KBBI adalah petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut), belajar merupakan suatu usaha untuk memperoleh kepandaian/ilmu. [16] istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru/pendidik untuk membuat para peserta didik melakukan proses belajar. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para siswanya. Kegiatan belajar hanya akan berhasil jika si pelajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Seorang guru tidak dapat mewakili belajar siswanya. Seorang siswa belum dapat dikatakan telah belajar hanya karena ia sedang berada dalam satu ruangan dengan guru yang sedang mengajar. Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan guru untuk membuat siswa belajar. Peran yang seharusnya dilakukan guru adalah mengusahakan agar setiap siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan berbagai sumber belajar yang ada.

Dengan demikian media pembelajaran adalah media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar kepenerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media pembelajaran dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru menyajikan informasi belajar kepada siswa, jika program media itu didesain dan dikembangkan dengan baik. Brown mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran secara baik, maka fungsi itu akan dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru. [17]   

Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad ke-20 usaha pemanfaatan visual bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas and interaktif, seperti adanya komputer dan internet. [18]

Dari beberapa pendapat diatas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah “segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsangkan pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik”.

Dikaitkan dengan pembelajaran, media dimaknai sebagai alat komunikasi yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk membawa informasi berupa materi ajar dari pengajar kepada peserta didik sehingga peserta didik menjadi lebih tertarik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Dalam mengajar, panca indra dan seluruh kesanggupan seorang perlu dirangsang, digunakan dan dilibatkan sehingga ia tak hanya mengetahui, melainkan dapat memakai dan melakukan apa yang dipelajari. Panca indra yang paling umum dipakai dalam mengajar adalah mendengar. Melalui mendengar anak mengikuti peristiwa demi peristiwa dan ikut merasakan seolah-olah anak melihat sesuatu dari apa yang diceritakan. Namun menurut ilmu pendidikan berpendapat bahwa hanya 20% dari apa yang didengar yang dapat diingat kemudian hari. Kesan yang lebih dalam dapat dihasilkan jikalau apa yang diceritakan “dilihat” melalui sebuah gambar, model at au benda. Dengan demikian melalui mendengar dan melihat akan diperoleh kesan yang lebih dalam. Media pembelajaran (alat peraga) seperti :gambar, peta, papan tulis, boks pasir, dan lain-lain dapat menolong anak untuk mengingat dengan lebih baik, yaitu mampu mengingat sampai 50% dari apa yang didengar dan dilihatnya.[19]

Sekali lagi, apa yang didengar pada hari itu, manusia hanya sanggup mengingat sebanyak 20% saja dakemudian hari. Angka ini akan meningkat jikalau apa yang diceritakan itu selain didengar juga dapat dilihat, sehingga seseorang atau anak memperoleh kesan yang jauh lebih dalam, menolong anak untuk mengingat dengan lebih baik, yaitu mampu mengingat 50% dengan apa yang didengar dan dilihatnya.[20]

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah bahan, alat, maupun metode/teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukatif antara guru dan anak didik dapat berlangsung secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuan pengajar yang telah dirumuskan sebelumnya. Atau dengan kata lain, media pembelajaran adalah” segala sesuaru yang dapar menyalurkan pesan dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada peserta didik. Dengan demikian melalui mendengart dan melihat akan diperoleh kesan yang jauh lebih dalam. Media pembelajara (alat peraga) seperti: gmbar, peta, papan tulis,boks pasir dan lain-lain dapat menolong atau untuk mengingat dengan lebih baik.

Fungsi Media Pembelajaran

Ada dua fungsi media utama media pembelajaran yang perlu diketahui, yaitu: pertama, media berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran, dan fungsi kedua media adalah sebagai sumber belajar. Kedua fungsi utama dari media tersebut dapat ditelaah dalam diagram Cone of learning dari Edgar Daela yang secara jelas memberi penekanan terrhadap pentingnya media dalam pendidikan. Diagram tersebut  dari sumber H. Asnawi dalam bukunya, Media Pembelajaran ( Diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia) sebagai berikut: [21]

DIAGRAM

Gambar 1

Dari diagram diatas secara umum media mempunyai kegunaan atau fungs:

1. Media memperjelas pesan agar tidaak terlalu verbalisi

2. Media mengatasi keterbatasan ruang, wakt8u tenaga dan daya indra

3. Media dapat menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung sntara murid   dengan sumber  belajar.

Media pembelajaran memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori dan kinestetiknya. Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman menimbulkan persepsi yang sama.

Media Pembelajaran Berfungsi Sebagai Alat Bantu

Setiap materi pengajaran memiliki tingkat kesukaran atau kompleksitas yang bervariasi. Pada satu sisi ada materi ajar yang tidak menggunakan alat bantu, tetapi dilain pihak ada materi yang sangat memerlukan alat bantu, yaitu berupa media pembelajaran. Media pembelajaran yang dimaksud antara lain berupa globe, grafik, gambar, dan sebagainyamateri ajar dengan tingkat kesukaran atau kompleksitas yang tinggi apabila tidak dibantu dengan media pembelajaran, tentu akan dicerna dan dipahami oleh siswa.

Hal ini akan semakin terasa apabila materi ajar tersebut abstrak dan rumit/kompleks.sebagai alat bantu, media berfungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan menuju pembelajaran. Hal ini dikuatkan dengan pernyataan bahwa kegiatan pembelajaran dengan bantuan media pembelajaran akan mempertinggi kualitas belajar siswa dalam tenggang waktu yang cukup lama. Itu berarti, kegiatan siswa dengan bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik daripada tanpa bantuan media.

Media Pembelajaran sebagai sumber belajar

Dalam pembahasan media sebagai sumber belajar ini, yang dimaksud sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat bahan pembelajaran peserta didik tersebut berasal. Menurut H. Asnawir, (2002)  sumber belajar dapaat dikelompokkan menjadi lima kategori yaitu: Manusia, bukan perpustakaan, media massa, alam lingkungan, dan medida pendidikan. Media pendidikan merupakan salah satu sumber belaja, ikut membantu guru dalam memudahkan tercapainya pemahaman materi ajar oleh siswa, serta dapat memperkaya wawasan siswa.[22]  melalui pemakaian alat peraga dan benda imajinasi anak dirangsang, perasaannya disentuh dan kesan yang dalam diperoleh. Melalui media alat peraga anak akan belajar lebih bersemangat dan dapat mengingat dengan lebih baik.[23]

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah bahan, alat atau benda yang digunakan dalam kegiatan mengajar dengan maksud agar proses interaksikomunikasi edukatif antara guru dan anak didik dapat berlangsung secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah dirumusknan sebelumnya.

Ciri-Ciri Khusus Media Pembelajaran

Ciri-ciri khusus media pembelajaran berbeda menurut tujuan dan pengelompokkannya. Ciri-ciri media pembelajaran dapat dilihat menurut kemampuannya dalam membangkitkan rangsangan pada indera penglihatan, pendengaran, peraba, pencium dan pengecap. Maka ciri-ciri umum media pembelajaran adalah bahwa media itu dapat diraba, dilihat, didengar, dan diamati melalui panca indera. Disamping itu ciri-ciri media juga dapat dilihat dari segi harganya, lingkup sasarannya, dan dikontrol oleh pemakai.

Pemahaman terhadap karakteristik media pembelajaran merupakan kemampuan mendasar yang harus dimiliki oleh guru dalam kaitannya dengan ketrampilan pemilihan dan penggunaan media pembelajaran. Disamping itu, untuk memberi kemungkinan kepada guru untuk menggunakan berbagai jenis media pembelajaran secara bervariasi. Apa bila guru kurang memahami karakteristik media pembelajaran tersebut, maka guru dihadapkan kepada kesulitan dan cenderung bersifat spekulatif dalam pemilihan dan penggunaan media pembelajaran.

Tiap-tiap media mempunyai karakteristik yang perlu dipahami oleh pemakainya. Dalam memilih media, orang perlu memperhatikan tiga hal, yaitu kejelasan, maksud dan tujuan pememilih media tersebut. h\kedua, sifst dan ciri-ciri media yang akan dipilih dan ketiga, adanya sejumlah media yang dapat dibandingkan karena pemilihan media pada dasarnya adalah proses pengambilan keputusan akan adanya alternatif-alternatif pemecahan yang akan dituntut.

Jenis-Jenis dan Bentuk Media Pembelajaran

Media secara umum merupakan suatu hal yang digunakan untuk menyampaikan pesan tertentu. Agar proses transformasi pesan tersebut optimal maka diperlukan kesesuayan jenis media yang akan digunakan. Beberapa klasifikasi mengenai media amenurut beberapa ahli sangat beragam hal ini dilihat dari sudut pandang mana jenis,

Jenis media didapat kelompok lain sebagai berikut:

Alat bantu Lihat (Visual)

Alat ini berguna didalam membantu menstimulasi indera mata (penglihatan)pada waktu terjadinya proses pendidikan. Alat ini ada 2 bentuk yaitu:

1.Alat yang  diproyeksikan, misalnya slide, film strip, dan sebagainya.

2.alat-alat yang tidak diproyeksikan

Alat Bantu Dengar (Audio)

Alat bantu nengar (Audio) ialah alat yang dapat membantu menstimulasi indera pendengaran pada waktu proses penyampayan bahan pendidikan/pengajaran. Misalnya: Piringan hitan, MP 3, Radio, pita suara, dan sebagainya.

Alat bantu lihat ( Audio – Visual)  

Seperti televisi dan vidio cassette ( VCD dan DVD). Alat-alat bantu pendidikan ini lebih dikenal dengan Audio Visual, karena bisa didengar dan dilihat.

Disamping pembagian tersebut, alat peraga juga dapat dibedakan menjadi dua macam menurut pembuatan dan penggunaannya.

1.Alat peraga yang complicatid (rumit), seperti film, film strip, slide, dan sebagainya yang memerlukan listrik dan proyektor.

2. Alat peraga yang sederhana, yang mudah dibuat sendiri dengan bahan-bahan setempat yang mudah diperoleh, seperti bambu, kantor, kaleng bekas kertas koran, dan sebagainya.

Pengajaran Pendidikan Agama Kristen

Secara sederhana, pengajaran dapat diatrtikan sebagai sebuah proses belajar mengajar yang memberikan dan menghasilkan pengetahuan dan keahlian. Dalam setiap proses mengajar, selalu diperlukan alat atau benda, sebagai sarat untuk menyampaikan pesan, yang kemudian lazim disebut dengan media pembelajaran. Menurut Thomdike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan /tindakan.[24]

Sementara itu Samuel Sidjabat mengutip devinisi dari Eksiklopedi pendidikan mengatakan bahwa pendidikan dapat diartikan “semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, kecakapannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmani maupun rohaniah.[25] Sedangkan proses pengajaran sendiri di dalamnya ada satu komponen penting yang tidak dapat ditinggalkan yaitu alat peraga untuk media mencapai suatu tujuan dalam pengajaran.

Dengan pemahaman diatas, maka setiap orang pasti terlibat didalam pengajaran baik itu formal maupun informal. Itulah sebabnya, Pengajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) dengan media pembelajaran alat peraga untuk siswa Sekolah Dasar menjadi topik yang sangat penting untuk dibahas secara mendalam. Sebelumnya membahas pandangan Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mengenai pemanfaatan media pembelajaran alat peraga, akan dikemukakan secara sepintas Arti dan Hakekat pendidikan Agama Kristen (PAK) fungsi dan tujuan PAK.

Arti dan Hakekat Agama Kristen

Untuk melengkapi pemahaman arti dan Hakekat PAK, baiklah kita simak apa yang disampaikan Wamer C. Graedorf (1976), sebagai berikut: “PAK adalah proses pengajaran dan pembelajaran yang berdasarkan Alkitab, berpusat pada Kristus, dan bergantung kepada Roh Kudus, yang yang membimbing setiap pribadi pada semua tingkat pertumbuhan melalui pengajaran masa kini kearah pengenalan dan pengalaman rencana dan kehendak Allah melalui Kristus dan setiap aspek kehidupan, dan melengkapi mereka bagi pengalaman yang efektif, yang berpusat pada Kristus Sang Guru Agung dan perintah yang mendewasakan pada murid”[26]

Dari definisi Wamer tersebut di atas, menurut Paulus Lilik Kristianto, dalam Buku Prinsifp dan praktik Pendidikan Agama Kristen, terdapat tiga aspek utama PAK, yakni: Diskrifsi PAK, Asfek fungsi dan aspek Filosofi PAK. [27]

1,Diskripsi PAK

PAK merupakan proses pengajaran dan pembelajaran berdasarkan Alkitab, berpusatkan Kristus, dan bergantung pada kuasa Roh Kudus. Pembelajaran berarti

pe membangunan pribadi menuju kedewasaan sedangkan pengajaran berarti dorongan bagi pembelajaran yang efektif.

2.Aspek fungsional pendidikan Agama Kristen (PAK)

PAK berusaha membimbing setiap pribadi ke semua tingkat pertumbuhan melalui pengajaran masa kini kearah pengenalan dan pengalaman tentang rencana dan kehendak Allah melalui Kristus dalam setiap aspek kehidupan dan untuk memperlengkapi mereka bagi pelayanan efektif. Proses PAK ditujukan kepada setiap  pribadi seperti pelayanan Kristus ( Yohanes 1:43). PAK berfungsi sebagai penyedia, pendorong, dan fasilitator dalam pembibingan.

3.aspek filosofi PAK

PAK merupakan proses pembelajaran dan pengajaran yang berpusatkan Kristus, sang Guru Agung dan perintah untuk mendewasakan para murid.

Kesimpulanya PAK yang Alkitabiah harus mendasarkan diri pada Alkitab sebagai firman Allah dan menjadi Kristus sebagai pusat beritanya dan harus bermuara pada hasilnya, yaitu mendewasakan murid. Seperti Firman Tuhan dalam Kolose 2:6-7. ( Efesus 4:11-13).

 Pada dasarnya PAK dimaksud untuk menyampaikan kabar baik (euangelion = injil), yang disajikan dalam dua aspek, aspek ALLAH TRITUNGGAL (ALLAH BAPA, ANAK dan ROHKUDUS) dan KARYANYA, dan aspek NILAI-NILI KRISTIANI. Secara holistik, mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar PAK pada Pendidikan Dasar Dan Menengah mengacu pada dokma Allah Tritunggal dan Karya-Nya. Pemahaman terhadap Allah Tritunggal dan Karyan-Nya harus tanpak dalam nilai-nilai Kristiani yang dapat dilihat dalam kehidupan keseharian peserta didik.

Pentingnya Pendidikan Agama Kristen

Agar memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agar menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari peran agama amat penting bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscahyaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

 

 

Pendidikan Agama Kristen dimaksudkan untuk peningkatkan potensi spritual dan

Membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang berminat dan bertakwa kepada Tuhsn Yang Maha Esa dan berakhlak mulia,. Akhlak mulia mencakup etika, bidi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penamaan nilai-nilai keagamaan, seperti pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individu ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbarbagai potensi yang dimiliki m.nusia yang aktualisasinya menciptakan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.

Penerapan Standar Kompetensi dan kompetensi Dasar Dibidng pendidikan Agama Kristen (PAK), sangat tepat dalam rangkayan mewujudkan model PAK yang bertujuan mencapai tranformasi nilai-nilai krisriani dalam kehidupan peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar memberikan ruang yang sama kepadasetiap peserta didik dengan keunikan yang berbeda untuk mengembangkan pemahaman iman kristen sesuai dengan pemahaman, tingkat kemampuan serta daya kreativitas masing-masing.

Standar Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Kristen bukanlah “standar moral” Kristen yang ditetapkan untuk meningkatkan peserta didik, melainkan dampingan dan bimbingan bagi peserta didik dalam melakukan perjumpaan dengan Tuhan Allah secara akrab karena sesungguhnya Tuhan Allah itu ada dan selalu ada dan berkarya dalam hidup mereka. Dia adalah Sahabat dalam kehidupan anak-anak. Berdasarkan pemahaman tersebu, maka rumus Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar PAK di sekolah dibatasi hanya pada aspek yang secara substansi mampu mendorong terjadinya trasformasi dalam kehidupan peserta didik, terutama pada pengayaan nilai-nilai iman kristen. Dogma yang lebih spesifik dan mendalam diajarkan di dalam gereja.

Fokus Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar berpusat pada kehidupan manusia (life centered). Pembahasan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar didasarkan pada kehidupan manusia, dan iman Kristen berfungsi sebagai cahaya yang menerangi tiap sudut kehidupan manusia. Pembahasan materi sebagai wahana untuk mencapai kompetensi, dimulai dari lingkup yang paling kecil, yaitu manusia sebagai ciptaan Allah, selanjutnya keluarga, tema, lingkungan di sekitar peserta didik, setelah itu barulah dunia secara keseluruhan dengan berbagai dinamikanya.

Tujuan dan Fungsi PAK di Sekolah Dasar

Tujuan Pendidikan Agama Kristen (PAK) di Sekolah Dasar :

Pertama PAK dim Sekolah Dasar Memperkenalkan Allah, Bapa, Anak dan Roh Kudus dan Karya-karya-Nya agar peserta didik betumbuh iman percayanya dan meneladani Allah Tritunggal dalam hidupnya. Menanamkan pemahaman tentang Allah dan Karya-Nya kepada peserta didik, sehingga mampu memahami dan menghayatinya. Menghasilkan Manusia Indonesia yang mampu menghayati imannya secara bertanggung jawab serta berakhlak mulia ditengah masyarakat yang pluralistik.

Untuk Melengkapi Tujuan Pengajar Agama Kristen yang merupakan usaha “pemuridan” dan sekaligus “Penginjilan”, obyek Pendidikan Agama Kristen di Sekolah sebagaimana ditulis oleh Dr.E.G Homringhaosen dab Dr.I.H Enklaar, dibawah ini akan menambah wacana dalam memahami tujuan pengajaran Agama Kristen di Sekolah tersebut, yaitu :

  1. Pendidikan agama Kristen menjadikan murid-murid menghargai dirinya sendiri.
  2. Pengajaran agama Kristen membuat mereka menjadi warga negara yang bertanggung jawab.
  3. Melalui pengajaran agama Kristen, diharapkan mereka dapat belajar menghargai dunia ini.
  4. Pengajaran agama Kristen supaya mereka dapat membedakan nilai-nilai yang baik dan yang jahat.
  5. Pengajaran agama Kristen supaya mereka dapat menghubungkan pengalaman-pengalaman mereka sendiri dengan filsafat hidup Kristen.
  6. Supaya mereka dapat menjadi orang yang dapat dipercaya.
  7. Supaya mereka belajar bekerja sama dan toong menolong.
  8. Supaya mereka selalu mengajar kebenaran.
  9. Supaya mereka bersikap positif terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekelilingnya, dan terhadap perkembangan-perkembangan sejarah umum.
  10. Dengan pelajaran agama Kristen, supaya mereka suka turut merayakan hari-hari raya Kristen dalam persekutuan Kristen.

Ada beberapa sifat yang ditunjukan dalam pengajaran agama Kristen, sehingga sangat efektif dalam mencapai tujuan akhir dari pendidikan atau pengajaran Kristen, seperti yang dikemukakan oleh Harry M. Piland, Yaitu :

Pertama, pengajaran yang “dijelmakan”. Dijelmakan adalah istilah theologia abstrak, tetapi istilah itu mengatakan apa yang perlu dikatakan mengenai pengajaran Alkitab atau pengajaran agama Kristen. Arti sebenarnya adalah bahwa firman itu menjadi daging dalam kehidupan guru-guru Agama Kristen dan dalam kehidupan anggota-anggota dalam kelas. Kedua, mengajar dengan teladan. Yesus sebagai Guru Agung, sebagian besar apa yang diajarkan kepada murid-murid-Nya, diajarkan-Nya melalui contoh atau teladan. Ia merupakan

 

II

1

  1. Menerapkan makna mengasihi dan menghargai manusia dalam kepelbagaian dan perbedaan yang ada

1.1     Mensyukuri kepalbagaian budaya, suku, agama dan bangsa

1.2     Mengasihi teman dan guru serta sesama disekolah dan disekitarnya

2

Menerapakan makna mengasihi dan menghargai manusia dalam kepelbagaian dan perbedaan yang ada

2.1     Menghargai teman dan guru serta sesama tanpa memandang perbedaan

2.2     Menolong orang yang sedan menderita yang ada di sekitarnya

 

III

1

  1. Mendeskripsikan arti mensyukuri pameliharaan Allah dalam kehidupan keluarga serta menunjukan syukur melalui tanggung jawab dalam keluarga dan sesama

1.1   Mensyukuri pemeliharaan Allah pada setiap anggota keluarga

1.2   Memberikan yang terbaik bagi keluarga

2

  1. Mendeskripsaikan arti mensyukuri pemeliharaan Allah dalam kehidupan keluarga dan menunjukan syukur melalui tanggung jawabnya dalam keluaga dan sesama

2.1     Turut serta mencipatakan hidup rukun dalam keluarga dan sesama

2.2      Memelihara alam cipataan Allah

IV

1

1. Memahami dan mengakui kemahakuasaan Allah dalam wujud tindakan manusia yang bergantung sepenuhnya kepada Allah

1.1  Memahami kamahakuasaan Allah

1.2 Mengakui keterbatasannya sebagai manusia dan ketergantungannya pada kemahakuasaan Allah

 

 

 

2

  1. Memahami dan mengakui kemahakuasaan Allah dalam wujud tindakan manusia yang bertanggung jawab sepenuhnya kepada Allah

2.1   Memahami wujud tindakan manusia yang sepenuhnya bertanggung jawab kepada Allah

2.2    Mensyukuri kemahakuasaan Allah

V

1

  1. Menjelaskan bahwa manusia berdosa tetapi diselamatkan  Allah melalui penebusan Yesus Kristus

1.1   Menjelaskan bahwa manusia itu berdosa

1.2   Menunjukan kerinduan memohon ampun

 

2

  1. Menjelaskan bahwa manusia berdosa tetapi diselamatkan  Allah melalui penebusan Yesus Kristus

2.1   Menjelaskan bahwa Allah adalah penyelamat manusia

2.2   Menunjukan sikap sebagai orang yang sudah diselamatkan

VI

 

1

  1. Menerapkan makna ibadah yang sesungguhnya, khususnya dalam seluruh aktivitas hidup manusia

1.1       Memahami dan menghayati makna ibadah

1.2        Memahami makna kegiatan sehari-hari sebagai ungkapan syukur kepada Allah

 

2

  1. Menerapkan makna ibadah yang sesungguhnya, khususnya dalam seluruh aktivitas hidup manusia

2.1       Memahami makna kegiatan sehari-hari sebagai ungkapan syukur kepada Allah

2.2       Melayani Allah dan sesama sebagai ungkapan syukur kepada Allah

 

 

Arah Pengembangan PAK Sekolah Dasar

Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan indilator pencapaian kompetensi, materi pokok, kegiatan pembelajaran yang diperlukan untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu diperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.

Media Pembejaran Dalam Alkitab

Media Pembelajaran Dalam Perjanjian Lama

Pada masa perjanjian lama, umat Israel dalam mengajar pada umat Allah sudah memakai media alat atau alat peraga sekalipun masih dalam bentuk yang sangat sederhana. Allah selalu menggunakan alat peraga berupa media visual untuk berkomunikasi dengan umat-Nya. Dia berbicara dan pesan-Nya yang didokumentasikan di dalam Alkitab. Namun dia sebenarnya melakukan lebih banyak lagi selain berbicara. Dia juga menggunakan berbagai alat visual untuk menguatkan pesan-Nya, seperti yang dapat dilihat ketika Ia berhubungan dengan orang-orang Israel selama keluar dari tanah Mesir dan mengembara di padang belentara.

Tuhan memimpin umat Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Umat israel benar-benar telah diyakini untuk meninggalkan Mesir. Sebagian besar karena penglihatan akan kekuatan Tuhan melalui tulah dan pekerjaan malaikat maut (keluaran 7-12).

Seperti telah dikemukakan diatas, bahwa pemanfaatan atau penggunaan alat peraga sebagai media pembelajaran sebenarnya bukan hal yang baru. Sejak jaman perjanjian lama alat peraga sudah sering digunakan dalam pengajaran kepada umat Allah.

Ada beberapa bukti pemanfaatan media dalam kitab perjanjian lama, yaitu antara lain:

1.      Ketika Tuhan memimpin Umat Israel keluar dari perbudakan di Mesir.

Umat Israel benar-benar telah diyakinkan untuk meninggalkan Mesir, sebagian besar karena penglihatan akan kekuatan Tuhan melalui tulah dan pekerjaan malaikat maut (Keluaran 7-12). Namun, ketika orang-orang Israel ini akan melewati Laut Merah, keragu-raguan pun muncul. Selama ini “Mesir” selalu mencukupi kebutuhan mereka, yaitu dengan memberi mereka makan, dan menahan mereka. Namun sekarang, ketika orang-orang Mesir mengejar-ngejar mereka  dengan penuh amarah, bagaimana mereka bisa bertahan? Di manakah Tuhan itu sekarang?

2.      Pengajaran Nabi Yeremia (Yeremia 18:1-6).

Pemeliharaan, pemulihan Allah bagi bangsa Israel yang telah banyak berbuat dosa (Yeremia 17:1-2) dinyatakan Tuhan melalui Nabi Yeremia, yaitu melalui tukang periuk. “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat ditangannya itu rusak, maka tukang periuk itu akan mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya”. Maka lebih lanjut untuk menjelaskan maksud dari media pembelajaran yamg dipakainya : “Masakah aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel; Sungguh seperti Tanah liat ditangan tukang periuk, demikianlah kamu ditanganKu, hai kaum Israel”

Allah menggunakan media pembelajaran kepada Nabi Yeremia melalui bejana yang dibuat oleh tukang periuk hal ini untuk menjelaskan perbuatan Allah kepada bangsa Israel, agar Yeremia memberi tahukan kejahatan dan dos bangsa Yehudaaa, Allah berharap melalui Nabi Yeremia mereka mau bertobat.[32]

3.      Pengajaran Nabi Yeremia dalam Yeremia 27:2-3,28:1-17).

Allah berfirman kepada Yeremia”Buatlah tali pengikat dan gandar, lalu pasanglah itu pada tekukmu,. . . . .”Yeremia bertindak lagi waktu utusan-utusan Tirus dan kawan-kawannya datang ke Yerusalem (Yeremia 27:3) – Gandar pada tekuknya – kepada rakyat; yang tidak mau menundukkan tekuknya di bawah Gandar raja Babel, akan dihukum oleh Tuhan (Yeremia 27:2:11) – Kepada raja; jangan mendengarkan nabi-nabi palsu, melainkan takhlukkanlah dirimu kepada Babel (Yeremia 27:12-25) – Kepada imam-imam; jika kamu tidak mau mendrngar, maka barang-barang perbendaharaan bait suci yang masih tinggal akan dibawa ke Babel (Yeremia 27:16-22). Hanaya, seorang nabi palsu membantahkan Nubuat Yeremia, dan gandar Yeremia dipatahkannya – Yeremia datang lagi dengan gandar besi (Yeremia 28:1-17). Nabi palsu Hanaya meninggal karena tidak taat pada Allah.[33] Allah menyuruh Yeremia untuk membuat gandar (Yeremia27:2) sebagai alat peraga dalam pengajarannya kepad bangsa-bangsa yang datang ke Yerusalem hal ini dilakukan untuk menunjukan pemberitahuan kehancuran bait suci dan penganiayaan nabi-nabi palsu. Nabi Hanaya seorang nabi palsu yang dihukum Allah mati karena ketidaktaatannya kepada Allah.

Media Pembelajaran Dalam Perjanjian Baru

Dalam kitab Perjanjian Baru, Tuhan Yesus sebagai Guru Agung, dalam pengajaran-Nya sering memakai atau menggunakan alat peraga sebagai media pengajaran-Nya. Misalnya, ketika Tuhan Yesus mengajar tentang apa yang layak diberikan kepada Tuhan, Ia menggunakan mata uang sebagai alat peraga (Matius 22:19-20); Dia memakai seorang anak untuk mengajar tentang sikaf hati yang patuh (Matius 18:2); Dia juga menggunakan pohon ara untuk mengajarkan pelajaran tentang iman (Matius 21:19), dan masih banyak lagi contoh Tuhan Yesus dalam memanfaatkan media alat peraga dalam pengajaran-Nya.

Sebagai gurunya, Tuhan Yesus selalu mencari dan menemukan berbagai cara dalam mengajar, serta dalam menghadapi berbagai situasi pendengar-Nya dengan media atau alat peraga untuk menyampaikan pesan atau maksut pengajaran-Nya, sehingga pengajaran-Nya lebih menarik dan dapat diterima dengan baik. Salah satu contoh pengajaran Tuhan Yesus yang terkenal adalah dengan perumpamaan.

Perumpamaan yang digunakan Tuhan Yesus dalam mengajar kebanyakan mengambil gambaran kehidupan sehari-hari, yang digunakan untuk menyampaikan kebenaran yang abstrak. “Seorang penabur keluar untuk menabur,” Ia memulai dengan memberikan ilustrasi yang memungkinkan untuk di responi. Penabur dan biji adalah hal yang umum, sesuatu yang dimengerti oleh semua yang mendengarkan-Nya. Disaat yang lain, Ia memulai dangan, “Hal kerajaan surga itu seumpama orang yang menaburkan benih di ladangnya,” (Matius 13:24-30; lihat juga (Matius 13:31-33) dan mengajar mereka kenyataan tentang kebaikan dan kejahatan yang tetap ada di dunia sampai hari penghakiman. Dalam setiap perumpamaan, dia membangun pemahaman sifat kerajaan Allah.

Tuhan Yesus menggambarkan kasih Bapa dalam peumpamaan lainnya. “Bagai mana pendapatmu ? jika seorang mempunyai seratus ekor domba dan seekor diantaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu ? “(Matius 18:12-14; lihat juga lukas 15: 4-7). Karena Ia tahu bahwa mereka adalah gembala dan domba, maka pendengar –Nya segera membayangkan seekor domba yang tidak patuh yang sedang dicari oleh gembalanya yang baik, dan merekla menangkap pandangan tentang Tuha.

Ia juga memberikan ilustrasi tentang kebenaran yang sama dengan menceritakan seorang wanita yang dengan cermat mencari uangnya yang hilang dan juga seorang ayah yang dengan sabar menungu anaknya yang memberontak dalam perumpamaan anak yang hilang (Lukas 15: 8-32).

Demikian juga dengan perjamuan. Perjamuan yang dimulai oleh Tuhan Yesus sebagai penanda visual pengorbanan-Nya untuk semua dosa manusia. Ketika Tuhan memberikan roti perjamuan kepada murid-murid-Nya, Ia berkata:” Ambillah dan makanlah; inilah tubuh-Ku!,”. demikian juga ketika Ia memberikan minuman, kata-Nya sambil mengambil cawan perjamuan terakhir:”Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa,”(Matius 26: 26-29; Lukas 22: 15-20;dan 1 Korintus 10 : 16). Sampai saat ini perjamuan menandakan penderitaan dan kematian Yesus bagi semua orang yang percaya.

Singkatnya, setiap orang yang ingin menghabiskan waktunya dengan membaca Alkitab dapat menemukan lebih banyak lagi conoh-contoh visual yang digunakan Yesus dalam mengajar. Menurut keempat injil, tercatat ada 32 perumpamaan.[34] ini berarti Tuhan Yesus mengajar dengan perumpamaan saja sebanyak 32 kali, dengan 32 macam perumpamaan. Yang disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak contoh alat peraga yang digunakan-Nya untuk menyampaikan ide-ide yang abstrak.

 

Pengajaran PAK di SD Kedungmundu 01 Semarang

Belajar merupakan suatu proses yang artinya kegiatan belajar senantiasa mengarah kepada terjadinya perubahan dalam diri seorang siswa dimana siswa dari tidak tahu menjadi tahu atau tidak mengerti menjadi mengerti. Pembelajaran PAK yang adalah kegiatan belajar mengajar didalam Pendidikan Agama Kristen sangat penting dilaksanakan oleh seorang guru agama Kristen dalam mmengemban tugas atau amanat Tuhan Yesus, seperti tertulis dalam injil Matius 28 : 19-20:”. . . . . .Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.”

Beberapa hal yang diperhatikan dan dilaksanakan dalam pelaksanaan pengajaran PAK, di SD Kendungmundu 01 Semarang, yaitu:

1.      Perencanaan pembelajaran pengajaran PAK

Rencana pengajaran adalah rencana guru mengajar mata pelajaran tertentu pada waktu dan kelas tertentu serta topik tertentu untuk satu pertemuan atau lebih rencana pengajaran berupa bahan-bahan yang dipersiapkan oleh guru sehingga menolong guru dan siswa. Bahan-bahan tersebut berupa buku-guku atau diktat, alat peraga untuk belajar mengajar. Rencana pengajaran tersebut berisi mengenai garis besar pelajaran, keteranga-keterangan, petunjuk-petunjuk atau gambar-gembar dan soal-soal. Selain itu rencana pengajaran juga merangkum segala kegiatan lain yang berakaitan dengan pergajaran, misalnya; hubungan antara murid dengan murid, murid dengan guru, serta motovasi dan suasana itu akan mempengarui hasil pendidikan.

Dalam kurikulum 1994, guru membuat program satuan pelajaran (PSP) atau sekarang dalam kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran) tahun 2006 dengan nama Rencana Relaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk setiap pokok bahasan yang akan disampaikan dalam satu atau dua kali pertemuan. Sedangkan Rencana Pembelajaran Harian (RPH) atau Rencana Harian (RH) dibuat seminggu sebelum materi disampaikan. Rencana pembelajaran pada kurikulum 2004 berupa silabus, yaitu; garis besar atau pokok materi pelajaran. Adapun rencana pengajaran yang disiapkan guru setiap hari merupakan Kompetensi Dasar (KD) yang akan dicapai dalam materi pokok. Secara sistematis rencana pembelajaran dalam bentuk satuan pelajaran adalah sebagai berikut:

a.       Identitas materi pelajaran (nama pelajaran, kelas, semester dan pertemuan yang dialokasikan).

b.      Standar Kompetensi  kompetensi dasar dan indikator yang hendak dijadikan tujuan dapat diambil dari kurikulum dan hasil belajar yang ditetapkan pemerintah. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

c.       Materi pokok (beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam mencapai kompetensi dasar).

d.      Metode, Media Pembelajaran dan sumber belajar digunakan untuk kegiatan pembelajaran.

e.       Strategi Pembelajaran atau proses belajar mengajar, yaitu; kegiatan pembelajaran secara konkrit yang dilakukan guru dan siswa dalam berinteraksi dengan materi pelajaran untuk menguasai kompetensi.[35]

Standar Kompetensi (SK) berfungsi mengembangkan potensi peserta didik, materi standar berfungsi memberi makna terhadap kompetensi dasar indikator hasil belajar menunjukan keberhasilan pembentukan kompetensi pada peserta didik. Sedangkan penilaian berbasis kelas untuk mengukur pembentukan kompetensi, menentukan tindakan tercapai atau tidaknya.[36] Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau RPP dalam struktur dan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Rencana Pembelajaran PAK seharusnya memenuhi beberapa syarat yaitu; disusun menurut kebutuhan tiap-tiap jenis pengajaran, sesuai dengan Alkitab yang artinya segala pokok pengajaran bersumber pada Alkitab.

Dalam setiap pemanfaatan atau penggunaan alat peraga sebagai media pembelajaran PAK pada siswa kelas 1-5 SD Kedung Mundu 12 Semarang, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu antara lain:

                                                          

2.      Pemilihan Media Pembelajaran

Mengapa perlu memilih Media Pembelajaran? Media pada hakekatnya merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran. Sebagai komponen, media hendaknya merupakan bagian integral dan harus sesuai dengan proses pembe;ajaran secara menyeluruh. Akhir dari pemilihan media adalah penggunaan media tersebut dalam kegiatan pembelajaran, sehingga memungkinkan siswa dapat berinteraksi dengan media yang kita pilih. Salah menentukan alternatif media yang akan kita gunakan dalam pembelajaran, maka pertanyaan berikutnya sudah tersediakah media tersebut di sekolah atau di pasaran? Jika tersedia, maka kita tinggal meminjam atau membelinya saja. Itupun jika media yang ada memang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah kita recanakan, dan sesuai harganya. Jika media yang kita butuhkan ternyata belum tersedia, mau tak mau kita harus membuat sendiri program media sesuai keperluan tersebut.

Jadi, pemilihan media itu perlu kita lakukan agar kita dapat menetukan media yang terbaik, tepat dan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sasaran didik. Untuk itu, pemilihan jenis media harus dilakukan dengan prosedur yang benar, karena begitu banyak jenis media seperti telah penulis paparkan pada bab dimuka, dengan berbagai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Pemilihan media merupakan keputusan yang menarik dan menentukan terhadap ketepatan jenis media yang akan digunakan, yang selanjutnya sangat mempengaruhi efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran. Dalam menentukan ketepatan media yang akan dipersiapkan dan digunakan melalui proses pengambilan keputusan adalah berhubungan dengan kemampuan yang dimiliki oleh media termasuk kelebihan karakteristik media yang bersangkutan dihubungkan dengan berbagai komponen pembelajaran. Belum tentu jenis media yang mahal, yang lebih modern, yang lebih serba maju akan mendukung terciptanya pembelajaran yang efektiv dan efisien. Sebaliknya jenis media sederhana, harganya murah, mudah dibuat atau mudah didapat mungkin lebih efektiv dan efisien dibanding yang lebih modern tersebut begitu juga posisi media dalam pola pembelajaran yang akan dilaksanakan akan sangat mempengaruhi ketepatan jenis media yang akan digunakan.

Sebelum melakukan proses pemilihan media ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan.

1.      Adanya kejelasan tentang maksud dan tujuan pemilihan media tersebut

2.      Tujuan pemilihan media harus dihubungkan dengan tujuan dari penggunaan media.

3.      Penggunaan media pembelajaran untuk mencapai tujuan kognitif, efektif atau psikomotor harus diperhatikan masing-masing dari aspek tujuan tersebut.

4.      Dalam pemilihan media harus diperhatikan pula dalam mempertimbangkan sebagai media pembelajaran apakah untuk sasaran individu, kelompok, atau klasikal atau untuk sasaran tertentu, misalnya anak balita, orang dewasa, masyarakat petani, orang buta, orang tuli, dan sebagainya.

Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran

Dalam memilih media sebagai sarana atau alat peraga dalam pembelajaran disamping memperhatikan karakteristik sebuah media dan prosedur yang benar, juga perhatikan kriteria dalam memilih media, yaitu antara lain:

1.      Alat peraga harus dipilih untuk menjelaskan inti cerita yang mau disampaikan.

2.      Alat peraga yang dipilih akan menolong anak mencapai tujuan khusus.

3.      Alat peraga yang dipilih tepat bagi golongan usia yang diajar.

4.      Alat peraga yag dipilih akan dapat membangkitkan rasa ingin tau, berimajinasi, makin kreatif, atau makin berani mengungkapkan ekpresinya.

5.      Alat peraga yang dipilih mudah didapat, terjangkau secara ekonomi.

6.      Guru yakin menguasai alat peraga itu, sehingga penyampaian pelajaran dapat terjadi dengan baik.[37]

4. Memilih Metode Pembelajaran

Metode merupakan alat perantara demi mencapai tujuan yang artinya cara-cara mengajarkan suatu pokok pelajaran untuk menjadikan efektif dalam penyampaiannya. Dalam penggunaan metode tidak ada metode atau teknik tertentu yang efektif untuk semua golongan atau umur dan semua kesempatan belajar mengajar. Oleh karena itu, guru tidak hanya menggunakan satu metode saja dan mengesampingkan metode yang lain. Beberapa cara atau teknik dapat digunakan sekaligus demi kesuksesan belajar mengajar. Meskipun demikian perlu disadari bahwa metode apapun yang digunakan guru keberhasilan pengajaran tidak hanya ditentukan oleh metode itu sendiri melainkan guru yang merupakan faktor penting dalam pembelajaran PAK. Pribadi guru dan seluruh hidupnya sangat mempengaruhi cara mengajar dan yang menentukan keberhasilan suatu metode pengajaran adalah kuasa Roh Kudus.

Beberapa metode atau cara yang digunakan dalam pengajaran PAK di SD Kedung Mundu 01, Semarang agar pengajarannya berhasil adalah:

a. Metode Ceramah

Cara menyampaikan materi pelajaran secara lisan untuk mencapai suatu pengajaran guru kepada siswa. Dalam metode ini guru menguasai dan menjelaskan pokok pelajaran sedangkan siswa menerima, memperhatikan dan membuat catatan serta mengikuti pelajaran yang diberikan guru.

b. Metode Bercerita

Mengandung kebenaran dn menyampaikan suatu pelajaran yang penting pada pendengarnya.

c. Metode Percakapan/diskusi

merupakan suatu cara dimana dua orang atau lebih mengajukan pendapat untuk mencari jawaban dari masalah yang dihadapi.

d. Metode Tanya Jawab

Mengajukan suatu pengajaran dengan jalan mengajukan pertnyaan supaya mendapatkan jawaban

Baik lisan maupun tertulis.

e.  Metode Audio Visual

Cara ini sangat menarik perhatian dan mudah diingat oleh siswa karena menggunakan gambar-gambar terang, film bersuara, papan flanel dan sebagainya.

f.       Metode lakon atau sandiwara

Digunakan para pemain supaya semua penonton menghayati segala peristiwa dengan penuh perasaan

5.      Pelaksanaan Pembelajaran

Setiap proses pembelajaran selalu memiliki pendahuluan karena merupakan susunan palajaran yang penting supaya pelajaran yang disampaikan guru berhasil dan tercapai. Pendahuluan atau permulaan adalah bagian penting yang dapat menarik perhatian murid kepada pokok pelajaran yang diajarkan. Hal ini agar perhatian siswa timbul terlebih dahulu karena adanya kontak atau rangsangan dalam pikiran siswa sehingga dari diri siswa ada minat dan keinginan untuk mengetahui pangajaran yang diajarkan.

Bentuk pendahuluan dalam pembelajaran bisa dimulai dengan curah pendapat, tanya jawab, pernyataan, tanggapan maupun apresiasi dari siswa. Kemudian Pujian satu atau dua lagu yang berkaitan dengan materi pokok, dan indikator tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan sebelumnya. Doa pembukaan oleh siswa maupun guru. Bisa doa bersyair, berbalasan. Dari pribadi siswa maupun sesuai teks yang sudah disiapkan oleh guru maupun penulis buku pelajaran PAK.

Pembukaan diusahakan singkat, padat dan menarik. Jangan terlalu lama. Ambil 10% (8-10 menit) dari semua alokasi waktu dalam satu kali pertemuan tersebut. Pembukaan yang baik akan menentukan seberapa jauh minat belajar anak selanjutnya. Apalagi jika pembukaan dengan alat peraga atau media, siswa akan lebih termotivasi; imajinasi siswa dirangsang; perasaan yang disentuh dan kesan yang dalam diperoleh siswa. Perhatian siswa terhadap materi pembelajaran meningkat.

b. Isi/Inti

setelah siswa diarahkan kepada pelajaran sehingga memiliki minat, motivasi untuk belajar, serta perhatian yang dalam terhadap materi yang akan dipelajari, maka guru harus terus menjaga perhatian supaya siswa tetap fokus akan pengajaran yang disampaikan. Usahakan materi mulai dengan yang mudah, dasar atau konsep, istilah dan contoh-contoh. Materi sampaikan dengan sistematis. Pendalaman materi merupakan hal yang penting setelah penjelasan istilah atau konsep dasar. Aktifkan dan libatkan siswa dalam seluruh proses pembelajaran. Media pembelajaran adalah salah satu alat bantu mengajar untuk meningkatkan kreativitas dan perhatian siswa dalam proses pembelajaran.

c. Penutup

Dalam susunan pengajaran bagian terakhir adalah kesimpulan, penutup atau penerapan, karena pengajaran belum bisa dianggap selesai apabila belum mengarah pada penerapan yang dilakukan siswa. Dengan menyimpulkan maka dapat menjelaskan kebenaran yang dipelajari sehingga mendorong siswa untuk melakukan atau menerapkannya. Dalam penutup juga tugas rumah yaitu untuk memperdalam materi, maupun persiapan untuk materi berikutnya. Pekerjaan rumah hendaknya bervariasi sesuai dengan kecerdasan majemuk. Pekerjaan rumah, bisa merupakan proyek, hasta karya, penyelidikan, pengamatan, maupun mengerjakan soal-soal yang jawabannya bisa ditemukan sendiri melalui bacaan, pengamatan maupun pengalaman sendiri.

Pemberian tugas rumah harus jelas materinya, kriteria penilaian, batas waktu mengerjakan dan kapan tugas tersebut harus dikumpul. Juga harus dipertimbangkan waktunya dan tugas tersebut untuk pribadi maupun dalam kelompok. Penutup diakhiri dengan pujian maupun doa penutup oleh guru maupun siswa.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian manfaat penggunaan media dalam pengajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) pada siswa 1-5 Sekolah Dasar Kedung Mundu 01, Semarang. Pelaksanaan penelitian ini mengikuti suatu daur (siklus) yang didalamnya terdapat kegiatan merencanakan kegiatan, melaksanakan tindakan, melakukan pengamatan dan melaksanakan refleksi pada seluruh tindakan sebelumnya.

Pendekatan yang ditempuh dalam penelitian  ini adalah pendekatan kualitatif yang diterapkan dalam penelitian skripsi. Penelitian ini dilakukan sendiri oleh peneliti.

Tempat, Waktu dan Partisipan Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SD Kedung Mundu 01, yang lokasinya dijalan Ampusari Raya No. 03, Kedung Mundu,Tembalang, Semarang. Penelitian telah dilakukan minggu pertama bulan Juni 2010. Jumlah partisipan dalam penelitian ini sebanyak 11 orang siswa.

Alat Penelitian

Alat atau instrumen penelitian yang digunakn dalam penelitian ini adalah angket penelitian yang terdiri dari dua jenis, yaitu:

1.      Lembar Pertanyaan wawancara Aktivitas Belajar Siswa sebelum guru menggunakan alat peraga

Lembar wawancara ini digunakan untuk mengetahui aktivitas siswa dalam proses pembelajaran sebelum menggunakan media dan setelah menggunakan media alat peraga sampai evaluasi. Aspek-aspek yang ditanyakan dalam wawancara adalah aktivitas keterlibatan siswa hingga evaluasi, yaitu:

1.      Apakah yang mendorong kamu untuk belajar Pendidikan Agama Kristen?

2.      Jika gurumu mengajar tidak memakai gambar, peta atau benda dalam mengajar, apakah kamu siap untuk mengikuti pelajaran?

3.      Apakah kamu sungguh-sungguh mengukuti pelajaran agama, jika gurumu hanya bercerita atau menjelaskan pelajaran, tanpa memperlihatkan gambar, benda atau tulisan-tulisan dipapan tulis sesuai dengan isi cerita?

4.      Jika gurumu mengajar tidak menggunakan media alat peraga apapun, apakah kamu akan cepat mengerti, hafal dan dapat mengingatnya dengan baik?

5.      Apakah kamu dapat menceritakan kembali apa yang diceritakan atau dijelaskan gurumu, jika gurumu hanya berbicara, menjelasakan tanpa memperlihatkan gambar, peta ataupun benda yang berhubungan dengan cerita tersebut?

2.      Tes Tanggapan Siswa Terhadap Media

Tes Tanggapan Siswa Terhadap Media pembelajaran ini digunakan untuk meneliti seberapa manfaat penggunaan alat peraga yang dipakai sebagai media pembelajaran. Hal-hal yang diukur adalah:

No

Pernyataan

Tanggapan

SS

S

N

TS

STS

1

Pengajaran akan lebih menarik jika menggunakan media alat peraga.

 

 

 

 

 

2

Media yang digunakan dapat mempermudah dalam meneliti pelajaran

 

 

 

 

 

3

Media yang digunakan dapat mempermudah dalam menerima pelajaran.

 

 

 

 

 

4

Media alat peraga dapat membantu mengingat pelajaran lebih lama.

 

 

 

 

 

5

Mengajar dengan media alat peraga akan meningkatkan prestasi belajar.

 

 

 

 

 

 

Prosedur Pengumpulan Data

Analisis data dilakukan meliputi kegiatan klasifikasi data, penyajian data, dan penilaian keberhasilan tindakan. Kegiatan klasifikasi itu meliputi memilah-milah data yang telah dikelompokan sesuai dengan jenis datanya.

Data yang diperoleh dari pengamatan dan angket dilakukan analisis, reduksi data, pemaparan data, dan penyimpulan. Reduksi data dilakukan dengan menyederhanakan dan konseptualisasi melalui seleksi, pemfokusan, dan abstraksi data mentah sehingga menjadi informasi yang bermakna. Paparan data dilakukan dengan penyajian data dalam bentuk paparan naratif. Adapun penyimpulan adalah proses mengambil intisari dalam bentuk pernyataan kalimat.

Analisis aspek-aspek yang dinilai dari pengamatan aktivitas keterlibatan siswa dalam belajar, baik sebelum menggunakan Media Pembelajaran maupun sesudah guru menggunakan media, akan sangat bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana efektifitas Media Pembelajaran dalam setiap proses pembelajaran.

Untuk mengetahui skor keterlibatan siswa dalam mengikuti pelajaran, baik sebelum menggunakan media maupun setelah menggunakan media, dilakukan dengan cara:

a.       Mengangkakan (kuantifikasi) tanggapan siswa dengan cara:

·         Pilihan jawaban ST (Sangat Tinggi) dinilai skor 5

·         Pilihan jawaban T (Tinggi) dinilai skor 4

·         Pilihan jawaban S (Sedang) dinilai skor 3

·         Pilihan jawaban R (Rendah) dinilai skor 2

·         Pilihan jawaban SR (Sangat Rendah) dinilai 1

b.      Menghitung tingkat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sampai Prestasi Belajar siswa dengan rumus sebagai berikut:

Rata-rata skor = Jumlah skor keterlibatan siswa / jumlah siswa

Adapun kriteria tingkat keterlibatan siswa dalam belajar ditentukan sebagai berikut:

Tingkat Keterlibatan siswa :

Rata-rata

Skor

Sangat Tinggi

21-25

Tinggi

16-20

Sedang

11-15

Rendah

6-10

Sangat Rendah

0-5

 

2. Analisis Kebermanfaatan Media

Evaluasi pemanfaatan media perlu dilakukan untuk mengetahui manfaat penggunaan Media dalam pengajaran. Untuk mengetahui skor manfaat media ini dilakukan dengan cara :

a.                 Mengangkakan (kuantifikasi) tanggapan siswa dengan cara:

·         Pilihan jawaban SS (Sangat Setuju) dinilai skor 5

·         Pilihan jawaban S (Setuju) dinilai skor 4

·         Pilihan jawaban N (Tidak Tahu/Netral) dinilai skor 3

·         Pilihan jawaban TS (Tidak Setuju) dinilai skor 2

·         Pilihan jawaban STS (Sangat Tidak Setuju) dinilai 1

b.      Menghitung tingkat manfaat media pembelajaran

Tingkat manfaat media pembelajaran dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Rata-rata skor = Jumlah skor Manfaat / jumlah siswa

Adapun kriteria tingkat kebermanfaatan siswa media ditentukan sebagai berikut:

Rata-rata

Skor

Sangat Tinggi

21-25

Tinggi

16-20

Sedang

11-15

Rendah

6-10

Sangat Rendah

0-5

 

Keterbatasan Penelitian

Mengingat keterbatasan jumlah partisipan, yaitu hanya 11 orang siswa dalam satu sekolah dasar, dari kelas 1-5, maka peneliti menggunakan metode kualitatif, sehingga hasil penelitian tidak dapat digenerealisasikan bagi tempat lain.

Lampiran 1: Format 1

DAFTAR PENGAMATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA

SEBELUM DAN SESUDAH MENGGUNAKAN MEDIA

Nama : .......................

Kelas : .......................

N0

Uraian Pengamatan

Sebelum Menggunakan

Media

Sesudah Menggunakan

Media

ST

T

S

R

SR

ST

T

S

R

SR

1

Motivasi anak untuk belajar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

Kesiapan anak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Keingintahuan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

Kesungguhan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5

Konsentrasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6

Daya Serap

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7

Daya Ingat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8

Mengungkapkan Kembali

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9

Prestasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10

Secara Keseluruhan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :                                                                                                   

ST = Sangat Tinggi (5)

T = Tinggi (4)

S = Sedang (3)

R = Rendah (2)

SR = Sangat Rendah (1)

Lampiran 2: Format 2

DAFTAR TANGGAPAN SISWA

SEBELUM DAN SESUDAH MENGGUNAKAN MEDIA

N0

Uraian Pengamatan

Sebelum Menggunakan

Media

Sesudah Menggunakan

Media

ST

T

S

R

SR

ST

T

S

R

SR

1

Motivasi saya untuk belajar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

Kesiapan saya untuk mengikuti pelajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Keinginan saya untuk mengetahui materi pelajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

Kesungguhan saya saat mengikuti pelajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5

Konsentrasi saya saat mengikuti pelajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6

Kemampuan saya menyerap pelajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7

Kemampuan saya untuk mengingat materi pelajaran yang diberikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8

Kemampuan saya untuk menjelaskan ulang pelajaran yang diberikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9

Prestasi saya dalam ujian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10

Keinginan saya untuk terus belajar supaya Nilai Ujian terus meningkat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :                                                                                                   

ST = Sangat Tinggi (5)

T = Tinggi (4)

S = Sedang (3)

R = Rendah (2)

SR = Sangat Rendah (1)

 

 

 

 

 

 

Lampiran 3:

DAFTAR TANGGAPAN SISWA TERHADAP MEDIA

YANG DIGUNAKAN DALAM PELAJARAN PAK

                                                                                                      Nama Siswa : .....................

                                                                                                      Kelas : ................................

 

Petunjuk Pengisisan :

1.      Tulis nama ditempat yang telah disediakan!

2.      Bacalah peryataan dengan teliti!

3.      Berilah tanda centang () pada kolom tanggapan sesuai dengan pemahamanmu!

4.      Keterangan : SS = Sangat Setuju

N = Netral/Tidak Tahu

TS = Tidak Setuju

STS = Sangat Tidak Setuju

No.

 

Pernyataan

Tanggapan

SS

S

N

TS

STS

1

Pengajaran akan lebih menarik jika menggunakan media alat peraga.

 

 

 

 

 

2

Media yang digunakan dapat mempermudah dalam meneliti pelajaran.

 

 

 

 

 

3

Media yang digunakan dapat mempermudah dalam menerima pelajaran.

 

 

 

 

 

4

Media alat peraga dapat membantu mengingat pelajaran lebih lama.

 

 

 

 

 

5

Mengajar dengan media alat peraga akan meningkatkan prestasi belajar

 

 

 

 

 

 

Lampiran 4 :

DAFTAR SISWA SD KEDUNG MUNDU 01, SEMARANG

YANG MENGIKUTI PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

TAHUN PELAJARAN 2009/2010

NO.

NAMA SISWA

KELAS

KETERANGAN

1

Priskila

1

 

2

Dina

1

 

3

Wini Alfira

2

 

4

Sherli

3

 

5

Cristian Sugiarto

4

 

6

Widya Nugraheni

4

 

7

Anita

4

 

8

Bambang Setiono

5

 

9

Aulius

5

 

10

Bagus

5

 

11

Fransiska

5

 

 

 

 

Lampiran :

No.

 

Pernyataan

Tanggapan

SS

S

N

TS

STS

1

Pengajaran akan lebih menarik jika menggunakan media alat peraga.

20%

70%

0%

0%

0%

2

Media yang digunakan dapat mempermudah dalam meneliti pelajaran.

50%

30%

20%

0%

0%

3

Media yang digunakan dapat mempermudah dalam menerima pelajaran.

50%

30%

20%

0%

0%

4

Media alat peraga dapat membantu mengingat pelajaran lebih lama.

70%

20%

10%

0

0%

5

Mengajar dengan media alat peraga akan meningkatkan prestasi belajar

70%

20%

0%

0%

0%

 

Keterangan :                                                                                                   

ST = Sangat Tinggi (5)

T = Tinggi (4)

S = Sedang (3)

R = Rendah (2)

SR = Sangat Rendah (1)

 

 

 

 

DAFTAR HASIL PENGAMATAN AKTIVITAS BELAJAR  SISWA

SEBELUM DAN SESUDAH MENGGUNAKAN MEDIA

N0

Uraian Pengamatan

Sebelum Menggunakan

Media

Sesudah Menggunakan

Media

ST

T

S

R

SR

ST

T

S

R

SR

1

Motivasi anak untuk belajar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

Kesiapan anak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Keingintahuan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

Kesungguhan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5

Konsentrasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6

Daya Serap

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7

Daya Ingat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8

Mengungkapkan Kembali

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9

Prestasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10

Secara Keseluruhan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1___________Artikel Pendidikan, Motivasi on to learn An overview Educational Psukology Interactive, Valdosa State University, 2001), hal 46.

[2]Ruth Lautfer, Pedoman Pelayanan Anak (Malang : Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil, 1993), hal 134-150.

[3]Sardiman, Media Pembelajaran (Jakarta, PT. Raja Grafindo, 2006), 186.

[4]Dien Sumiyatiningsih, Tuhan Penolongku 6 PAK, Referensi KTSP dengan Kecerdasan Majemuk. (Yogyakarta : CV Andi Offset, 2007), 68-70

[5]http://vhajrie27wordpree.com/wp-admin/(Akses Tgl 22 Juni 2010)

[6] Hari Setiawan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Surabaya : Karya Gemilang Utama, 2007), hal 3

[7]Latuhanu 1998, http/www.infoskripsi.com/indeks.php

[8]Werner C Graendorf, International to Biblical Christian Education, (Chicago : Moody Press, 1988), hal 16. [9]Dien Sumiyatiningsih, G.D, Mengajar Dengan Kreatif dan Menarik, (Yogyakarta : Andi Offset, th 2006), hal 124.

 [10]Andreas B Subagyo, Pengantar Riset Kuantitatif dan Kualitatif, Termasuk Riset Teologia dan Keagamaan, Semarang,: Pertustakaan STIB, 1998), hal 105. [11]Kartika Laria, 2008 http://www.infoskripsi.com/indeks.php.

[12]Ruth Lautfer, Pedoman Pelayanan Anak (Malang, Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil, 1993), hlm. 134-150.

 [13]J. Reginald Hill, Penuntun Sekolah Minggu, (Jakarta: Yayasan Komunukasi Bina Kasih, 1998), hal 69-88.

[14]Hari Setiawan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Surabaya : Karya Gemilang Utama, 2004), hal 38.

[15]AECT (Assosiation of Education and Communication Technology, 1977),

[16]Hari Setiawan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Surabaya : Karya Gemiang Utama, 2004), hal 3

[17]http://a2i3s-c0ol.blogspot.com/2008/10/media-pembelajaran.html, akses tgl 27 Juni 2010

[18]http://psb-psma .org/content/blog/media-pembelajaran, akses Tgl 27 Juni 2010

[19]H. Asnawir, Media Pembelajaran, (Jakarta : Delia Citra Utama, J, 2002), hal 68-70

 [20] MGMP PAK Teknik dan Metode Mengajar Pak berdasarkan kurikulum 2004, Lokakarya Meningkatkan Kualitas Guru-Guru PAK, Bogor

21]Janse Belaandia Non-Serrano, Pedoman Untuk Guru PAK SD-SMA Dalam Melaksanakan Kurikulum Baru (Bandung : Bina Media Informasi, 2006), hal 22-23

[22] H. Asnawir, Media Pembelajaran, (Jakarta : Delia Citra Utama, 2002),hal 97

[23] J. Reginald Hill, Penuntun Sekolah Minggu, (Madang:, Yayasan Komunukasi Bina Kasih, 1990), hal 69-88.

 [24]Baharudin, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jogjakarta : Ar_Ruzz Media, 2007), hal.64-65.

25]Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1999), hal 2-8.

[26]Paulus Lirik Kristanto, Prinsip dan Praktek PAK Penuntun bagi Mahasiswa Teologi, dan PAK, Pelayan Gereja, Guru Agama dan Keluarga Kristen (Yogyakarta : Andi Offset), hal. 4-5.

[27]Ibid.

[28]Dr. E.G Homrighausen,Dr. I. H Enklaar, Pendidikan Agama Kristen (Yakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), hal. 48-49.

 [29]Harry M. Piland, Perkembangan Gereja dan Penginjilan melalui Sekolah Minggu, LBB, Bandung 1984, Hlm. 164

[30]Yuliana, Alam Semesta dan Sejarah, Buletin Evangelion, Edisi 50, Tahun 1998

[31]Iris V. Cully, Dinamika Pendidikan Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1995, Hlml.109

[32]Chris Marantika, Kepercayaan dan Kehidupan Kristen, (Yogyakarta : Sekolah Tinggi Theologia Injili Indonesia, 1996), hal 218

[33]N Titus, Sejarah Suci, (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1995), hal 221-222.

[34]___________Alkitab Elektronik 2.0.0, (Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab Terjemahan Baru, 1974

 [35]Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran. (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2004), hal 126

[36]E Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004. (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2004), hal 74-75

[37]____________________Mengajar Anak-Anak Secara Efektif, (Jakarta : Lembaga Penginjilan Anak, 1997), 124